21 April 2013

Tragedi Boston, Siapapun Berpeluang

Oleh: Ali Akbar Hasibuan
Belakangan ini, ledakan bom selalu diidentikkan dengan muslim. Jika terjadi sebuah ledakan khsusunya bom semua mata dunia pasti tertuju pada satu titik yakni ‘muslim’. Seperti ledakan bom yang baru–baru ini terjadi pada acara perlombaan maraton yang digelar di boston, 15 April 2013. Bom yang meledak pada acara yang pertama kali digelar pada tahun 1897 ini, telah memakan korban sebanyak tiga orang dinyatakan meninggal dunia dan puluhan lainnya mengalami luka-luka yang serius.
Tidak lama setelah kejadian yang mengharukan itu, hujatan kepada satu pihakpun yakni khususnya Islam, sangat masif dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan tidak memiliki bukti yang kongkret. Sebagaimana yang dilansir oleh Al Arabiya pada hari selasa 14 April 2013, seorang kolumnis garis keras yakni Erik Rush (kontributor fox news) Melalui akun twitternya telah menulis “Ayo bawa terus orang Saudi tanpa ada melakukan pemeriksaan”. Ketika pengguna twitter lain bertanya kenapa dia menyalahkan umat muslim, Rush malah menjawab dengan kasar bahwa umat Muslim harus dienyahkan dari muka bumi.

7 April 2013

Berfikir Adil, Bukan Kerdil

Oleh: Ali Akbar Hasibuan
“Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalgi dalam perbuatan” (Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia). Sudah 15 tahun organisasi mahasiswa bernama KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) ikut andil dalam sejarah perjalanan republik Indonesia,  organisasi yang lahir dari pertemuan FSLDK ini, secara perlahan sudah berani menunjukkan eksistensinya dijagat kemahasiswaan. Terlihat dari mengguritanya organisasi ini lahir diberbagai kampus, baik yang negeri maupun swasta.
Pertumbuhan secara masif  ini memang harus diapresiasi, apa lagi dengan adanya beberapa tokoh yang sudah ‘mencuat’ kepublik, yang lahir dari rahim KAMMI, seperti Fahri Hamzah (Anggota DPR RI, ketua KAMMI 1998 ), Andi Rahmat (Anggota DPR RI, ketua KAMMI 2000), Hanta Yuda (pengamat politik, KAMMI UGM), padahal untuk ukuran sebuah organisasi KAMMI terbilang masih ‘remaja’. Berbeda dengan organisasi seperti HMI, PMII, GMKI, PMKRI yang telah lebih dahulu memproklamirkan diri sebagai sebuah organisasi mahasiswa. Tapi pertumbuhan ini, seharusnya menjadi bahan bacaan bagi orang-orang yang berada distruktur KAMMI, untuk memperbaiki pemikiran para kader, sehingga kader menjadi orang yang berpengaruh dikomunistasnya (Non-KAMMI). Menurut saya ada beberapa yang harus dikritisi atau diperbaiki pada pemikiran ‘segelintir’ kader KAMMI.

6 April 2013

Pemuda dan Kedaulatan Bangsa

Oleh: Ali Akbar Hasibuan

"Para pemimpin muda memiliki energi dan gagasan yang kita perlukan untuk mengubah dunia kita....”  (Ban Ki-moon dalam acara ECOSOC, Rabu 27/03/2013)
Berbicara tentang pemuda pastilah tiada habis-habisnya. Pemuda sebagai amunisi yang siap berkorban bagi bangsa merupakan sebuah hal yang lumrah dalam konteks ke-kinian. Pemuda akan selalu membersamai perjalanan sebuah bangsa. Karena dalam hakikatnya kemajuan sebuah bangsa ditentukan oleh kemapanan para pemudanya. Baik dari sisi intelektual, ekonomi, kontributif, loyalitas dan spritual.
Dahulu pada zaman pra-kemerdekaan berjuta pemuda turun untuk melawan kolonialisme Belanda maupun jepang. Hanya sebuah kata yang ingin diteriakkan yaitu kemerdekaan. Kemerdekaan yang harus ditebus dengan darah dan nyawa. Begitu pedih penderitaan dikala itu, seperti halnya Tan Malaka yang terusir dari Negeri sendiri, hanya karena ingin membela nasib buruh dan menghancurkan kapitalisme kaum feodal. Dimana kala itu para kompeni-kompeni Belanda bagai kanibal baru dengan pabrik gulanya. Tan Malaka, Soekarno, Natsir, dan banyak pemuda-pemuda lainnya yang tidak tercatat oleh sejarah, pastilah memiliki pengalaman pribadi dengan cita rasa yang berbeda dalam meneriakkan kemerdekaan. Lalu, Bagaimana dengan kondisi para pemuda Indonesia saat ini?

31 Maret 2013

Mahasiswa dan Persensi Berdering

Oleh: Ali Akbar Hasibuan
siapa yang tak mengikuti perkembangan zaman, maka bersiaplah dengan kematian”. Handphone sekarang sudah menjadi kebutuhan primer bagi setiap individu, tanpa terkecuali mahasiswa. Bermacam fitur-fitur menarik yang ditawarkan oleh produsen, seolah menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Hampir setiap hari, berbagai jenis handphone keluaran terbaru dengan keunggulan yang berbeda-beda silih berganti mengisi pasar Indonesia. Dengan mereguk kocek yang tidak dalam kita sudah dapat memiliki barang canggih ini. Kecanggihan fiturpun menjadi ukuran dalam penilaian konsumen, karena fitur-fitur tersebut sudah menjadi kebutuhan yang tak terpisahkan dalam kehidupan manusia moderen. Seperti halnya fitur untuk mengirim pesan atau yang lebih dikenal dengan sebutan ‘SMS’. Sekarang orang tidak perlu lagi repot-repot untuk mengirim surat, karena fitur ini telah dapat mengantikannya. Tapi apa jadinya bila hasil dari produk moderen ini disalah gunakan, seperti dalam suasana perkuliahan. Seorang mahasiswa yang tidak mengikuti perkuliahan akan dengan mudah meminta kepada temannya agar persensinya diisikan, dengan berbagai alasan, seperti kesetiakawanan maka perilaku kotor inipun dijalankan. Karena pada dasarnya persensi kehadiran itu digilirkan kepada para mahasiswa, entah karena apa, dosen seolah malas untuk mengabsen mahasiswanya satu persatu.

28 Maret 2013

Mahasiswa Nyantet, Prestasi Mampet

Oleh: Ali Akbar Hasibuan
Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), arti kata santet adalah sihir, jika seseorang menyantet bearti dia telah menyihir. Tapi kebanyakan orang satu sama lain selalu berbeda dalam memahami makna santet, karena sesuai dengan kondisi dan pemahaman. Ada yang mengatakan bahwa santet adalah perbuatan yang berhubungan dengan alam gaib. Ada juga yang mengatakan bahwa santet merupakan suatu jalan pintas dalam menyelesaikan sebuah masalah, yang dilandasi rasa benci terhadap seseorang sehingga menimbulkan rasa kepuasan. Kini perilaku santet juga telah merambah kedunia intelektual yakni kampus, pada umumnya santet sering dilakukan oleh mahasiswa. Contohnya perbuatan manipulasi absen yang dilakukan mahasiswa merupakan perilaku neo-santetisme. Karena biasanya mahasiswa sering melakukan perbuatan titip-menitip absen. padahal jika memang tidak bisa mengikuti perkuliahan, mahasiswa dapat membuat surat. Tapi itu merupakan pekerjaan yang memakan waktu dan juga merepotkan bagi seorang mahasiswa. Sejalan dengan pengertian diatas bahwa santet adalah sebuah jalan ‘pintas’ untuk menyelesaikan sebuah masalah.